“Akui, Minta Maaf, dan Perbaiki Kesalahan”

“If a person keeps coming back and you love each other enough to keep forgiving past mistakes, maybe you were really meant for each other.”

“Jika seseorang terus datang kembali dan kalian saling mencintai sedemikian rupa sehingga bisa saling memaafkan kesalahan masa lalu, mungkin kalian memang berarti satu sama lain.”

~ Anonim ~

Akui, Minta Maaf, dan Perbaiki Kesalahan

(oleh: Toni Yoyo)

Tidak ada manusia yang sempurna. Semua orang pasti ada kekurangan dan kesalahan. Demikian pula dengan dua orang yang berpasangan. Perbedaannya adalah tidak setiap orang berani mengakui kesalahannya. Apalagi sanggup untuk meminta maaf atas kesalahan yang sudah dilakukan. Terlebih kemudian dia mau berupaya maksimal untuk memperbaiki kesalahannya. Orang dengan ciri-ciri seperti ini akan diterima di manapun dia berada.

Mengakui kesalahan bagi sebagian orang dianggap merendahkan diri sendiri. Kesalahan dalam pandangan umum dianggap sesuatu yang buruk sehingga orang yang melakukan kesalahan otomatis juga dianggap buruk. Padahal berani mengakui kesalahan menunjukkan kebesaran hati yang tidak dimiliki oleh semua orang.

Meminta maaf atas kesalahan yang sudah dilakukan, dianggap dapat meruntuhkan harga diri dan menjatuhkan ego bagi sebagian orang. Meminta maaf dianggap sebagai pernyataan kekalahan. Orang yang meminta maaf diposisikan di bawah tingkat orang yang dimintakan maafnya. Padahal berani meminta maaf atas kesalahan yang sudah dilakukan, menunjukkan kekuatan karakter untuk menghormati orang lain dan diri sendiri.

Berupaya maksimal untuk memperbaiki kesalahan yang sudah dilakukan, menunjukkan kualitas diri yang tinggi akan tanggung jawab. Seseorang yang memenuhi semua tanggung jawabnya dan bertanggung jawab sepenuhnya atas apa yang sudah dilakukan, akan selalu disambut dengan baik di manapun dia datang. Meskipun kesalahan yang sudah dilakukan belum tentu dapat terhapus oleh perbaikan yang kemudian dilakukan, paling tidak kerusakannya dapat dikurangi.

Kesalahan, kebablasan, kehilangan, kelalaian, kekecewaan, dan kekeliruan dalam mengelola hubungan selalu terjadi antar dua orang yang berpasangan bahkan pada pasangan yang terlihat paling rukun, harmonis, dan romantis sekalipun. Sebagai contoh, si suami telah berjanji untuk membeli satu kebutuhan istri dalam perjalanan pulang ke rumah. Si istri sungguh mengandalkan suaminya karena persediaan di rumah sudah habis sehingga dia sangat membutuhkannya.

Mungkin karena banyak pikiran yang terbawa dari tempat kerja. Atau kurang menganggap serius janji kepada istri yang dianggap sebagai orang sendiri. Atau karena faktor-faktor penyebab lainnya, si suami lupa untuk membelinya. Sesampai di rumah, si istri mengutarakan kekecewaannya karena kebutuhan yang sudah dipesannya tidak dibeli. Rencana dan persiapan yang sudah dilakukannya pun menjadi sia-sia.

Alih-alih mendapatkan permintaan maaf dari si suami, malah protes dan kemarahan yang diterima, “Kenapa kamu tidak menelepon atau mengirimkan pesan untuk mengingatkan saya?” Bukannya meminta maaf atas janji yang tidak ditepati, malahan si suami menyalahkan si istri. Si suami telah menggerogoti hubungan baik antar keduanya yang telah terbina.

Yang seharusnya dilakukan oleh si suami adalah mengungkapkan rasa malu dan bersalahnya telah melupakan janjinya, lalu meminta maaf telah mengacaukan rencana si istri, dan mengambil tindakan dalam waktu secepatnya yang memungkinkan untuk memenuhi janji tersebut meskipun terlambat. Walaupun si istri belum tentu menerima dan memaafkan akibat kerugian yang sudah terlanjur terjadi, si suami akan merasa puas dan nyaman karena telah melakukan tindakan perbaikan yang benar.

Ingatlah wahai couples, masing-masing dari dua orang yang berpasangan pasti pernah melakukan kesalahan. Bagi yang bersalah, diperlukan kedewasaan dan kebesaran hati untuk mengakui kesalahan, meminta maaf, dan berupaya maksimal memperbaiki kesalahan tersebut. Bagi yang tidak bersalah, diperlukan kelapangan dada untuk menerima dan memaafkan pasangannya.

“Dua orang yang berpasangan pasti pernah saling melakukan kesalahan. Bagi yang bersalah, diperlukan kedewasaan dan kebesaran hati untuk mengakui kesalahan, meminta maaf, dan berupaya maksimal memperbaiki kesalahannya. Bagi yang tidak bersalah, diperlukan kelapangan dada untuk menerima dan memaafkannya.

~ Toni Yoyo ~

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *