“Almost No Room for Excuse”

“Ninety-nine percent of the failures come from people who have the habit of making excuses.”

“Sembilan puluh sembilan persen dari kegagalan-kegagalan berasal dari orang-orang yang memiliki kebiasaan untuk membuat alasan-alasan.”

~ George Washington Carver ~

“Almost No Room for Excuse”

(oleh: Toni Yoyo)

Secara kesehatan dan medis, kita mengenal terjadinya penyumbatan pembuluh darah yang bisa berakibat fatal bagi yang mengalaminya. Sebenarnya, dalam pencapaian kesuksesan dan kebahagiaan juga ada yang menjadi penyumbat atau penghambatnya di dalam diri kita. Tidak heran, banyak di antara kita yang masih tertahan dalam perjalanan menuju kesuksesan dan kebahagiaan dalam hidup ini karena adanya penyumbat atau penghambat ini.

Salah satu penyumbat atau penghambat utama dalam pembuluh darah kesuksesan dan kebahagiaan kita adalah alasan. Alasan merupakan pembenaran atau alibi untuk tidak meraih hasil yang diinginkan. Kita membuat banyak alasan dalam kehidupan ini. Artinya kita sendiri yang sebenarnya menjadi penghambat utama dalam meraih kesuksesan dan kebahagiaan diri kita.

Alasan menjadi senjata yang ampuh dan sering kita gunakan untuk membenarkan berbagai kegagalan yang kita alami. Nama lain dari alasan adalah excuse, dalih, pembenaran, atau pemaafan diri.

Semakin sering kita membuat alasan atas kegagalan yang kita alami, semakin terampil dan terlatih otak kita melakukannya. Akhirnya terbentuklah kebiasaan dalam diri kita untuk selalu mencari alasan. Kita menjadi seorang ahli dalam membuat alasan. Kadang kala kegagalan belum terjadi, namun pikiran kita sudah menyiapkan berbagai alasan untuk menjelaskan seandainya kegagalan itu benar-benar terjadi nantinya. Bagaimana mungkin kita dapat menang jika kita tidak punya semangat yang memadai karena tersedianya begitu banyak alasan untuk kalah?

Alasan dalam berbagai bentuknya membuat kita menyerah dengan mudah, membuat kita merasa sah-sah saja untuk berhenti di tengah jalan perjuangan kehidupan. Alasan pula yang membuat kita tetap merasa terhormat walaupun seharusnya malu dengan diri sendiri, membuat kita merasa wajar-wajar saja sewaktu mengalami kegagalan, yang sebenarnya bisa dihindari kalau saja kita tidak mudah membuat alasan.

Alasan ibarat virus berbahaya yang memandulkan kemampuan, mematikan kreativitas, mengikis potensi, dan menghancurkan masa depan kita. Melalui alasan, kita berkesempatan menyalahkan semua hal, orang, dan situasi dan kondisi yang terjadi. Yang tidak pernah salah hanyalah diri kita sendiri. Jika alasan yang menyalahkan segala sesuatu di luar diri kita ini sering dibuat, tanpa kita sadari akan tertanam dalam pikiran bawah sadar kita bahwa semua itu bukanlah salah kita, melainkan salah orang lain, lingkungan, atau situasi dan kondisi.

Alasan yang diterima dan dipercaya, akhirnya akan memunculkan kebenaran yang salah mengenai citra dan persepsi diri kita. Ujung-ujungnya, kita dengan mudah menerima kegagalan dan ketidaksuksesan sebagai nasib. Jika itu dibiarkan terus, kita tidak akan pernah sampai ke puncak kesuksesan dan kebahagiaan dalam kehidupan kita, karena setiap kali mengalami kegagalan atau penolakan, tersedia begitu banyak alasan.

Kisah berikut tentang seorang penemu yang barangkali merupakan salah seorang penemu yang paling terkenal di dunia. Selain penemuannya yang cukup banyak dan fenomenal, catatan berbagai kegagalan yang dia alami pun tidaklah kalah menariknya.

*************************************************

Sepanjang hidupnya, sudah banyak penemuan yang dia hasilkan untuk mempermudah kehidupan manusia. Salah satunya yang paling fenomenal adalah lampu pijar yang menjadi dasar pengembangan lampu modern.

Dia mendapatkan pendidikan formal yang sangat sedikit. Dia dikembalikan oleh sekolahnya kepada ibunya disertai catatan bahwa prestasi akademiknya sangatlah menyedihkan. Ibunya tidak serta merta menerima hal tersebut. Ibunya lalu mengambil alih pelajarannya.

Sejak kecil dia sudah berjualan di kereta api. Sebagian uang yang diperolehnya digunakan untuk melakukan penelitian dan percobaan kecil-kecilan. Nahas dalam suatu percobaan, kecelakaan menyebabkannya hampir cacat. Selain itu dia mengalami banyak sekali kegagalan dalam percobaan yang dilakukan. Dia harus melakukan hampir seribu kali percobaan sebelum akhirnya berhasil menemukan lampu pijar. Kebakaran besar juga sempat menghabiskan laboratoriumnya.

Namun itu semua tidaklah menjadi alasan bagi seorang Thomas Alva Edison untuk berhenti menemukan dan mencipta. Edison tidak sibuk mencari alasan atas berbagai kegagalan tersebut. Dia malah menjadikannya dorongan untuk terus berkarya dalam menemukan dan mencipta berbagai hal untuk mempermudah kehidupan manusia.

*************************************************

Jadilah pribadi yang tidak mudah memberikan alasan. Jadilah pribadi yang persisten, tekun, punya kekuatan tekad (determinasi) tinggi, pantang menyerah, ulet, berkomitmen dan berdedikasi. Niscaya kesuksesan dan kebahagiaan dalam kehidupan akan lebih mudah kita raih.

Mulailah dari sekarang menerima tanggung jawab terhadap kegagalan diri yang terjadi. Jangan melakukan pembelaan diri dan mencari alasan dengan menyalahkan orang lain, lingkungan, serta situasi dan kondisi.

Jika kita gagal, kita mungkin harus melakukannya lagi dengan cara atau pendekatan yang berbeda. Kita haruslah menjadi terampil bukan dalam mencari alasan kegagalan, tetapi dalam mengetahui berbagai cara yang gagal sehingga keberhasilan menjadi semakin dekat.

Untuk bisa mengeluarkan diri kita yang sesungguhnya, yakni mengeluarkan seluruh potensi, bakat, dan kemampuan terbaik dari dalam diri kita, salah satu prasyarat yang harus dipenuhi adalah mengurangi berbagai alasan yang sering kita munculkan setiap kali mengalami kegagalan. Alasan-alasan hanya akan memperkokoh pintu yang menghalangi pengeluaran diri kita yang sesungguhnya.

“Kita mudah membuat alasan atas kegagalan yang kita alami. Kitalah yang seharusnya bertanggung jawab atas kegagalan kita. Semakin ahli kita membuat alasan, semakin sering kegagalan kita alami.”

~ Toni Yoyo ~

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *