“Anak Bermasalah, Orang Tua Bermasalah”

“If you send a child to therapy before you’ve been for yourself, the child rightly discerns that you consider the child the problem. If, however, you’ve used therapy in your life before asking your child to go, she learns that therapy is a natural choice for people who want to live conscious, healthy lives. Therapy is good emotional and mental hygiene – just as teeth cleanings and going to the gym are good for physical health. Nothing to be ashamed of!”

“Jika Anda mengirim anak ke terapi sebelum Anda menjalaninya sendiri, anak memahami bahwa Anda menganggap dia sebagai masalahnya. Namun, jika Anda telah menjalani terapi dalam hidup Anda sebelum meminta anak Anda menjalaninya, dia mengetahui bahwa terapi adalah pilihan alami bagi orang yang ingin hidup sadar dan sehat. Terapi adalah untuk kesehatan emosional dan mental yang baik – seperti halnya membersihkan gigi dan pergi ke pusat kebugaran adalah baik untuk kesehatan fisik. Tak perlu malu karenanya!”

~ Julie Bogart ~

“Anak Bermasalah, Orang Tua Bermasalah”

(oleh: Toni Yoyo)

Label atau etiket biasanya ditempelkan pada produk dan berisi informasi utama tentang produk tersebut. Label harus mencantumkan informasi yang benar. Ternyata, label tidak hanya yang terlihat alias ada secara fisik. Keberadaan label juga bisa secara virtual atau maya alias imajiner.

Umumnya, setiap orang memiliki label yang tertempel pada dirinya. Label diri seorang manusia tentu saja berbentuk maya atau imajiner. Label diri biasanya terbentuk dari persepsi orang-orang yang kenal dengan dia atau pernah berinteraksi dengannya. Contoh label diri, misalnya rajin, malas, pintar, bodoh, cepat, lambat, baik, jahat, murah hati, kikir, sabar, emosional, dan lain-lain.

Demikian juga dengan anak, seringkali memiliki label diri. Label diri anak seringkali disematkan oleh orang tuanya sendiri. Tentu saja label diri anak bisa juga disematkan oleh orang-orang lain. Entah karena anak sering menimbulkan masalah, karena tidak mengindahkan nasihat atau permintaan orang tuanya, atau karena sebab-sebab lain, orang tua lalu melabel anaknya “bermasalah”.

Label diri “anak bermasalah” ini disematkan ke anak bisa dengan cara orang tua berulang kali mengatakannya langsung ke anak atau orang tua mengatakannya kepada orang lain. Atau bisa juga terjadi orang tua mengatakan bahwa anaknya bermasalah kepada orang lain di depan anaknya sendiri. “Memang dia ini anak yang bermasalah”, kata orang tua memberitahukan kepada orang lain sambil menunjuk anaknya. Yang mana pun yang terjadi, bisa dibayangkan dampak buruk yang dapat timbul dalam diri anak.

Jika orang tua melabel diri anak bermasalah atau label-label diri tidak baik lainnya, selain anak akan menganggap benar bahwa demikianlah diri dia adanya, anak juga dapat membenci dan mendendam kepada orang tuanya. Akibatnya, begitu ada kesempatan, anak akan membalas dalam bentuk melakukan hal-hal tidak baik kepada orang tuanya.

Orang tua jangan sampai lupa bahwa jika anak bermasalah, kemungkinan besar orang tuanya juga bermasalah. Ini adalah fakta yang sulit terbantahkan. Meskipun tidak harus serta merta demikian karena ada orang tua yang baik namun anaknya bermasalah karena berbagai faktor penyebab lainnya. Artinya, berhati-hatilah orang tua jika mau mengatakan anaknya bermasalah, karena secara tidak langsung orang tua tersebut menyatakan bahwa dirinya juga bermasalah. Ini sesuai dengan peribahasa yang mengatakan, “Menepuk air di dulang, terpercik muka sendiri”, melakukan sesuatu yang berakibat kepada dirinya sendiri.

Oleh karena itu, untuk menyelesaikan secara komprehensif dan tuntas anak yang bermasalah, tidak hanya solusi dilakukan ke anak, melainkan juga ke orang tuanya. Tidak hanya anak yang harus dibereskan,  melainkan juga orang tuanya. Jika hanya anak yang “beres” namun orang tuanya “belum beres”, anak akan segera menjadi tidak beres kembali alias bermasalah kembali.

Untuk menimbulkan kesadaran bahwa orang tua juga harus membereskan dirinya terlebih dahulu, tidaklah mudah. Namun kesadaran ini yang akan menjadi titik awal penyelesaian anak yang dianggap bermasalah. Tentu saja kesadaran ini harus dilanjutkan oleh orang tua dengan segera memperbaiki dirinya sambil mengambil solusi terhadap permasalahan anaknya.

Ingatlah wahai orang tua, anak tidak serta merta bermasalah. Jika anak bermasalah maka hampir pasti orang tuanya juga bermasalah. Untuk menyelesaikan masalah anak, tidak hanya anak yang harus dibereskan melainkan juga orang tuanya.

“Orang tua jangan mudah mengatakan anaknya bermasalah karena sama saja mengatakan dirinya sendiri bermasalah. Jika anak bermasalah, biasanya orang tuanya juga bermasalah. Untuk menyelesaikan anak bermasalah, terlebih dahulu harus menyelesaikan orang tuanya yang bermasalah.”

~ Toni Yoyo ~

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *