“Anak Melihat, Anak Melakukan”

“Instruction is good for a child; but example is worth more.”

“Pengajaran itu baik untuk anak; tapi teladan orang tua adalah lebih berharga.”

~ Alexandre Dumas ~

“Anak Melihat, Anak Melakukan”

(oleh: Toni Yoyo)

Ada peribahasa erbahasa Inggris yang berbunyi, “Monkey see, monkey do” (kera melihat, lalu mengikuti atau mencontoh apa yang sudah dilihat). Peribahasa ini mengacu kepada menirukan suatu hal tanpa mengetahui alasan mengapa hal tersebut dilakukan. Bisa jadi hasil peniruan ini kemudian ditirukan lagi oleh yang lain, tentu saja juga tanpa mengetahui alasannya karena yang ditiru pun tidak mengerti alasan melakukannya.

Anak adalah pembelajar sejati. Anak, terutama yang masih kecil, sangat cepat belajar, salah satunya dengan meniru. Mereka sangat “rakus” dengan berbagai hal baru. Mereka pantang menyerah dan terus mencoba hal baru meskipun berulang kali gagal. Tentu saja belajar dengan cara menirukan ini umum dipraktikkan oleh orang tua kepada anaknya. Ini dikarenakan misalnya usia anak belum memungkinkan dia mengerti mengapa harus melakukannya. Yang terpenting anak melakukan apa yang diinginkan orang tua dengan cara orang tua mencontohkan lalu meminta anak untuk melakukan atau menirunya.

Anak mulai meniru sejak ia lahir. Hal ini dimulai dengan meniru ekspresi wajah orang tuanya. Ketika orang tuanya tersenyum, anak ikut tersenyum. Ketika orang tuanya menjulurkan lidah, anak pun lalu melakukan hal yang sama. Begitu juga ketika orang tua tertawa dan berbicara, anak kecil akan mencoba menirunya meskipun tidak bisa sepenuhnya.

Karena anak belajar salah satunya dengan cara meniru, tidak heran kalau anak yang terlahir tuli akan otomatis menjadi bisu. Bukan dikarenakan adanya masalah pada pita suaranya, tetapi karena dari sejak bayi ia tidak bisa mendengar sehingga tidak bisa menirunya.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan belajar menggunakan cara meniru karena pada dasarnya meniru adalah proses pembelajaran alami manusia. Semakin anak bertumbuh, kemampuan belajar dengan meniru ini terus dibawa. Lingkungan menyediakan berlimpah hal baru bagi anak untuk ditiru. Anak belajar banyak hal dengan meniru dari lingkungannya. Yang paling dekat tentu saja lingkungan keluarga terutama orang tuanya. Celakanya, anak belajar hal buruk atau negatif dengan jauh lebih cepat dan menyenangkan dibandingkan belajar hal baik atau positif. Ini tidak hanya berlaku bagi anak tetapi juga bagi manusia secara umum.

Saat usia anak bertambah, belajar dengan meniru masih terus berlanjut. Apa yang dikatakan orang tua, sikap seperti apa yang orang tua tunjukkan, akan ditiru oleh anak. Anak belajar dari yang dilihat dan didengar. Apa yang orang tua lakukan, baik itu gerakan, kata-kata, atau emosi, dapat ditiru oleh anak. Hingga usia 18 bulan, anak biasanya masih meniru gerakan. Baru mulai usia tiga tahun, anak meniru perilaku, tata krama, sopan santun, dan tata bahasa.

Oleh karenanya, orang tua harus memonitor dengan baik apa yang boleh dan apa yang tidak boleh ditiru oleh anak. Jika usia anak sudah memungkinkan, orang tua harus menjelaskan alasan yang tepat kenapa sesuatu sebaiknya ditiru dan yang lain sebaiknya tidak ditiru.

Ingatlah wahai orang tua, jika anak berperilaku buruk sangatlah mungkin anak meniru perilaku orang tuanya. Oleh karenanya, orang tua harus menjadi contoh atau model peran perilaku baik terlebih dahulu atas perilaku baik apapun yang orang tua inginkan anaknya lakukan.

“Orang tua menjadi contoh atau model peran (role model) bagi anaknya. Jika anak berperilaku buruk sangat mungkin demikian pulalah dengan perilaku orang tuanya. Anak berbakat alami dalam meniru orang tuanya terutama dalam berperilaku buruk.”

~ Toni Yoyo ~

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *