“Bangunlah Jembatan Bukan Tembok Pemisah”

Miscommunication is the number one cause of all problems; communication is your bridge to other people. Without it, there’s nothing. So when it’s damaged, you have to solve all these problems it creates.”

“Salah komunikasi adalah penyebab utama dari banyak masalah; komunikasi adalah jembatan ke orang lain. Tanpanya, tidak ada apa-apa. Jadi ketika komunikasi rusak, Anda harus menyelesaikan semua masalah yang diakibatkannya.”

~ Earl Sweatshirt ~

Bangunlah Jembatan Bukan Tembok Pemisah

(oleh: Toni Yoyo)

Konflik yang terjadi di antara dua orang yang berpasangan dan berkeluarga adalah wajar dan biasa. Perbedaan yang dapat ditemukan antar pasangan adalah dalam mencegah, menghadapi, dan menyelesaikan konflik, serta memulihkan segala sesuatu setelah konflik terjadi. Meskipun konflik lebih cenderung bersifat merusak, jika dikelola dengan baik maka konflik dapat membawa manfaat positif.

Sepanjang konflik terjadi dan setelahnya, seringkali muncul tembok pemisah antar dua orang yang berpasangan. Tembok pemisah ini meskipun imajiner alias hanya ada di pikiran dan perasaan saja, namun keberadaannya terasa sangat jelas. Jika tidak ditangani dengan baik, tembok pemisah ini semakin lama akan semakin tebal dan tinggi dengan bertambahnya konflik yang tak terselesaikan tuntas. Alhasil, komunikasi dan interaksi menjadi berkurang atau terbatas sehingga memperburuk hubungan berpasangan dan berkeluarga. Adanya tembok pemisah menyebabkan dua orang berpasangan meski secara jarak fisik dekat dan sering bertemu namun secara hubungan terasa hambar dan kurang menggairahkan.

Apapun level konflik yang terjadi, akan cenderung membangkitkan naluri perlindungan dalam diri dua orang yang berpasangan. Kita umumnya tidak suka disalahkan, apalagi ditolak, diserang, atau disepelekan. Meskipun misalnya kita memang bersalah tetapi tata cara penanganan oleh pasangan akan menghasilkan dampak yang berbeda terhadap diri kita. Jika penanganan kurang pas, kita mungkin merasa kecewa dan tidak puas terhadap pasangan. Secara faktual, kita mungkin menjauhkan diri dari pasangan sebagai akibat dari sisa-sisa ketersinggungan dan kecurigaan yang terus bertahan dan mengendap dalam diri kita.

Konflik dalam frekuensi dan kadar yang tepat dapat meningkatkan kualitas diri masing-masing maupun kualitas kehidupan berpasangan dan berkeluarga. Konflik yang berhasil membawa manfaat positif memerlukan banyak persyaratan yang harus terpenuhi terlebih dahulu. Karena dampak dari konflik kadang sulit diantisipasi dan kualitas kedewasaan dan emosional dari dua orang yang berpasangan belum tentu berimbang, konflik antar keduanya lebih baik diminimalisir.

Konflik kadang muncul tak terduga. Misalkan pasangan kita menyampaikan tuduhan atau kritik berdasarkan cerita dari temannya. Jika kita menanggapinya dengan keras atau kita mengabaikannya maka konflik dapat berkembang menjadi semakin besar. Muncul rasa tidak suka bahkan kemarahan dalam diri kita maupun pasangan. Akan terbangunlah tembok pemisah.

Alih-alih balas menuduh atau balik menyalahkannya atau menganggap omongannya hanya angin lalu, cobalah untuk menanyakan dengan lebih lengkap dan jelas, serta mendengarkannya dengan baik. Klarifikasikan segala sesuatunya dengan emosi yang tetap terjaga. Jelaskan versi kita apa adanya. Inilah salah satu contoh membangun “jembatan” alih-alih “tembok pemisah”. Tidak seperti tembok pemisah yang memisahkan dan menghalangi, jembatan menghubungkan dua orang yang berpasangan dan berkeluarga.

Keterhubungan yang diciptakan ketika membangun jembatan menuju pasangan, datang dari kerelaan dan penerimaan akan diri kita sendiri dan diri pasangan kita. Sungguh tidak mudah namun bukanlah tidak mungkin untuk dilakukan. Ingatlah janji perkawinan saat kita dipersatukan dengan pasangan. Janji perkawinan mengisyaratkan kita dan pasangan untuk selalu berusaha membangun jembatan bukan tembok pemisah. Janji tersebut merupakan sesuatu yang suci untuk dilakukan secara maksimal sepanjang kehidupan bersama.

Ingatlah wahai couples, bangunlah jembatan alih-alih tembok pemisah dengan pasangan. Tidak seperti tembok pemisah yang memisahkan dan menghalangi, jembatan menghubungkan dua orang yang berpasangan dan berkeluarga. Keterhubungan menjadi kunci kesuksesan dalam hidup bersama.

“Bangunlah ‘jembatan’ alih-alih ‘tembok pemisah’ dengan pasangan. Tidak seperti tembok pemisah yang memisahkan dan menghalangi, jembatan menghubungkan dua orang yang hidup bersama. Keterhubungan menjadi kunci kesuksesan dalam hidup berpasangan dan berkeluarga.”

~ Toni Yoyo ~

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *