“Berayunlah Seperti Pohon Tertiup Angin”

“Anyone can give up, it’s the easiest thing in the world to do. But to hold it together when everyone else would understand if you fell apart, that’s true strength.”

“Siapa pun bisa menyerah, itu hal termudah di dunia untuk dilakukan. Tetapi untuk menyatukannya ketika semua orang dapat mengerti jikapun Anda berpisah, itulah kekuatan sejati.”

~ Anonim ~

Berayunlah Seperti Pohon Tertiup Angin

(oleh: Toni Yoyo)

Kita pasti pernah tahu atau bahkan melihat bagaimana sebuah pohon bisa bertahan dalam kondisi angin kencang atau badai sekalipun. Caranya adalah dengan berayun mengikuti tiupan angin. Keluwesan dan kelenturan pohon untuk berayun akan sangat menentukan apakah pohon tersebut dapat bertahan atau tidak. Satu hal penting lainnya, yakni saat berayun kembali kadang kala saking kerasnya tenaga ayunannya, pohon tersebut berayun ke arah sebaliknya. Supaya tetap bertahan, pada akhirnya pohon tersebut harus kembali ke posisinya semula. Ayunan yang dilakukan oleh pohon hanya untuk memastikan agar dapat terus berdiri tegak seperti semula.

Demikian juga dalam hidup berpasangan dan berkeluarga. “Angin” muncul dalam bentuk konflik, ketidakcocokan, kesalahan, kekhilafan, dan lain-lain yang negatif dalam frekuensi (sering tidaknya muncul) dan amplitudo (besar kecilnya dampak) yang bervariasi. Berhati-hatilah karena “angin” besar dalam kehidupan dapat merusak bahkan menghancurkan kehidupan.

Sifat “angin” dalam hubungan berpasangan dan berkeluarga bisa sangat mirip dengan angin yang sesungguhnya. Dia bisa muncul tanpa peringatan terlebih dahulu dan bertiup dengan berbagai level kekuatan. Agar hubungan berpasangan dan berkeluarga tetap terjaga di tengah amukan “angin” yang tidak diundang, kita perlu belajar untuk “berayun” sebagaimana halnya pohon berayun menghadapi tiupan angin. Jika bersikukuh melawan “angin” kehidupan dengan cara mengadu kekuatan, bisa jadi pohon kehidupan kita dapat tercabut dan tumbang.

Apa artinya “berayun” dalam “angin” kehidupan dua orang yang berpasangan dan berkeluarga?

Ini bukan berarti kita membiarkan pasangan berbuat sekehendak hatinya kepada kita. Atau hanya membiarkan dan mengikuti emosi pasangan kita. Atau membiarkan ketidakbenaran dan ketidakadilan dilakukan oleh pasangan kepada kita. Bukan berarti berdiam tanpa daya meskipun kita tahu bahwa ada kekeliruan dari tindakan pasangan kita. Bukan berarti kita berposisi sebagai korban dari pasangan. Bukan berarti kita lari atau bersembunyi dari masalah. Jika kita membiarkan saja pasangan kita tanpa memberikan respon dan tindakan tepat yang kita tahu, sebenarnya kita tidak hanya merendahkan diri sendiri tetapi juga merendahkan diri pasangan kita.

“Berayun” dalam “angin” kehidupan di antara dua orang yang berpasangan dan berkeluarga berarti membiarkan ledakan konflik mereda sebelum merespon atau bertindak. Jika kita langsung merespon atau bertindak dengan sama keras dan frontalnya seperti pasangan kita, ibarat pohon yang mencoba terus bertahan tegak dalam badai. Akibatnya bisa fatal. Adu kekuatan antara kita dengan pasangan dapat membuat mati sampyuh, membuat kita berdua gugur alias hancur bersama. Tentu bukan kondisi seperti ini yang kita inginkan.

“Berayun dalam “angin” kehidupan berpasangan dan berkeluarga supaya akhirnya kembali tegak, berarti mempertahankan batin, pikiran, emosi, dan semangat agar tetap tenang dan kuat dalam diri kita. Di dalam ketenanganlah terdapat solusi terbaik. Ketenangan akan dapat menaklukkan emosi. Sayangnya, karena ketenangan merupakan keahlian atau keterampilan maka harus dilatih secara rutin dalam berbagai kesempatan, terutama mulai dari hal-hal kecil. Ketenangan erat kaitannya dengan kesabaran, yang juga harus dibina melalui latihan. Kesabaran yang berkolaborasi dengan ketenangan dapat menjamin kehidupan berpasangan dan berkeluarga yang aman dan tenteram.

Ingatlah wahai couples, pohon mengalahkan angin kencang bahkan badai sekalipun dengan cara berayun. Terhadap “angin” kehidupan berpasangan dan berkeluarga, “berayun” juga dapat menjadi alternatif cara efektif untuk menyelesaikan permasalahan. Kemampuan “berayun” dalam menghadapi “angin” kehidupan sangat menentukan kelangsungan hidup dua orang yang berpasangan dan berkeluarga.

“Pohon mengalahkan angin kencang bahkan badai sekalipun dengan cara berayun. Berayun’ dalam ‘angin’ kehidupan berarti mempertahankan batin, pikiran, emosi, dan semangat agar tetap tenang dan kuat dalam diri. Kemampuan ‘berayun’ dalam menghadapi ‘angin’ kehidupan sangat menentukan kelangsungan hidup berpasangan dan berkeluarga.”

~ Toni Yoyo ~

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *