“Berikan Waktu untuk Diri Sendiri”

“Couples need time alone to renew their relationship. They also need to sustain supportive networks of friends and family.”

“Pasangan butuh waktu sendirian untuk memperbarui hubungan mereka. Mereka juga perlu mempertahankan jejaring teman dan keluarga yang mendukung.”

~ Stephanie Coontz ~

Berikan Waktu untuk Diri Sendiri

(oleh: Toni Yoyo)

Manusia adalah makhluk sosial karena perlu berinteraksi dan berkomunikasi dengan manusia lain. Namun bukan berarti setiap waktu sepanjang kehidupannya, seseorang harus terus-menerus bersosialisasi dengan orang lain. Jangan berlebihan dalam bersosialisasi dengan orang lain, pun tidak menutup diri dengan sama sekali tidak bersosialisasi dengan orang lain. Keseimbangan menjadi kata kuncinya.

Ternyata, cukup banyak orang yang kekurangan atau bahkan tidak punya waktu untuk dirinya sendiri. Waktu mereka dihabiskan untuk pasangan, keluarga, orang lain, pekerjaan, dan lain-lain. Alhasil, mereka seringkali merasa tidak mengenal dirinya sendiri. Mereka juga umumnya merasa ada yang kurang dalam dirinya. Kadang kala ada yang merasa kosong atau hampa atas kehidupan yang dijalaninya. Hidup dirasa kurang bermakna. Bahkan ada yang sampai merasa hidupnya sia-sia.

Leonardo Da Vinci adalah seorang polymath. Julukan ini disematkan kepada seseorang yang dianggap jenius karena mampu menguasai beberapa bidang ilmu yang berbeda. Leonardo Da Vinci sering merenung dan berpikir sendirian di pinggir hutan yang tenang di desanya, sambil memperhatikan hewan-hewan dan alam sekitarnya.

Isaac Newton kejatuhan apel sewaktu sedang merenung dan berpikir sendirian di bawah pohon. Dia lalu merenungkan dan memikirkan mengapa benda-benda jatuh ke bawah atau ke pusat bumi. Alhasil, Isaac Newton menemukan teori gravitasi universal.

Albert Einstein juga suka merenung. Sejak kecil dia memang pemalu dan lebih suka menyendiri. Tempat favoritnya adalah di atas bukit yang ada di desanya. Einstein dianggap sebagai salah satu ilmuwan terbesar dengan “Teori Relativitas” yang ditemukannya.

Napoleon dan Hitler sering diejek sebagai “anak kampung”. Mereka lebih suka menyendiri dan merenung. Akhirnya, dunia mengenal mereka sebagai tokoh-tokoh besar yang tercatat dalam sejarah manusia.

Tidak hanya contoh-contoh itu saja. Masih banyak lagi tokoh-tokoh besar dunia dengan beragam profesi, jika ditelusuri kisah detil hidupnya, ternyata secara rutin memberikan waktu untuk dirinya sendiri. Waktu untuk diri sendiri yang diisi dengan perenungan, mampu menciptakan ketajaman pikiran dan memaksimalkan potensi diri.

Dengan rutin memberikan waktu untuk diri sendiri dan mengisinya dengan hal-hal yang disukai dan/atau melakukan perenungan, kondisi kita akan menjadi lebih relaks. Kondisi relaks membuat kita bisa mengakses pikiran bawah sadar yang sangat pintar dan powerful. Karena itu tidak heran orang yang secara rutin memberikan waktu untuk diri sendiri, selain memiliki ketajaman pikiran, juga mampu menciptakan prestasi atau terobosan besar.

Memberikan waktu untuk diri sendiri tidak ada kaitannya dengan karakter extrovert atau introvert seseorang. Waktu untuk diri sendiri adalah kebutuhan dasar bagi setiap orang. Yang berbeda hanyalah kualitas dan kuantitasnya. Jika waktu untuk diri sendiri terpenuhi secara memadai, kualitas diri orang tersebut otomatis akan meningkat.

Ingatlah wahai couples, meskipun memilih untuk hidup berpasangan dan berkeluarga, kita tetap harus mengalokasikan waktu untuk diri sendiri. Kesendirian bisa diisi dengan melakukan hal-hal yang disukai dan/atau melakukan perenungan. Niscaya kehidupan berpasangan dan berkeluarga yang lebih berkualitas akan menjadi milik kita.

“Meskipun memilih untuk hidup berpasangan dan berkeluarga, tetap harus mengalokasikan waktu untuk diri sendiri. Kesendirian yang diisi dengan melakukan hal-hal yang disukai atau melakukan perenungan, dapat menghasilkan kehidupan bersama yang lebih berkualitas.”

~ Toni Yoyo ~

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *