“Berolah Raga dan Berolah Batin”

“Your body is not who you are. The mind and spirit transcend the body.”

“Tubuhmu bukanlah siapa dirimu. Pikiran dan batin melampaui tubuh.”

~ Christopher Reeve ~

Berolah Raga dan Berolah Batin

(oleh: Toni Yoyo)

Salah satu pekerjaan rumah (PR) terbesar kebanyakan orang adalah menjadi disiplin dan konsisten dalam melakukan hal-hal yang baik dan benar sepanjang kehidupannya. Secara sederhana, disiplin dapat diartikan melakukan secara lengkap yang baik dan benar; sedangkan konsisten dapat diartikan mengulang-ulang melakukan secara lengkap yang baik dan benar tersebut.

Jadi secara umum, kedisiplinan mengandung ketaatan atau kepatuhan, sedangkan konsistensi mengandung perlakuan secara tetap atau tidak berubah-ubah. Umumnya kedisiplinan dan konsistensi menjadi dua sahabat yang harus muncul bersama guna menjamin hadirnya keberhasilan dan kesuksesan.

Contoh sederhana kedisiplinan dan konsistensi yang masih menjadi PR besar bagi sebagian orang adalah dalam hal berolah raga. Hampir semua orang yang waras akan setuju bahwa jenis olah raga yang tepat dengan dosis yang tepat adalah menyehatkan dan dapat berkontribusi dalam memperpanjang kehidupan.

Akan tetapi berapa banyak di antara kita yang berolah raga secara disiplin dan konsisten? Artinya, berolah raga yang sesuai jenis dan dosisnya untuk diri kita dan mengulang-ulanginya sepanjang kehidupan kita. Banyak sekali alasan yang muncul sehingga banyak orang yang tidak disiplin dan konsisten dalam berolah raga, mulai dari tidak ada waktu, tidak ada peralatan, tidak ada teman, situasi dan kondisi tidak memungkinkan, dan lain-lain.

Padahal untuk menjaga keharmonisan dan kebahagiaan hidup berpasangan dan berkeluarga, kesehatan fisik sangatlah penting. Bahkan kesehatan fisik dapat dikategorikan sebagai salah satu syarat utama untuk meraih hidup bersama yang harmonis dan bahagia. Bisa dibayangkan jika salah satu dari pasangan atau bahkan keduanya sering sakit, akan banyak sumber daya diri (waktu, pikiran, tenaga, uang, dan lain-lain) yang harus dikeluarkan. Sumber daya diri yang banyak terkuras akibat kesehatan fisik yang buruk tentu akan menurunkan kualitas hidup berpasangan dan berkeluarga.

Banyak penelitian dan fakta yang menunjukkan bahwa kesehatan fisik turut mendukung kemampuan manusia dalam mengontrol ledakan emosi dan reaksi yang berlebihan saat menghadapi masalah dalam kehidupan. Emosi bersifat membutakan karena saat seseorang dilanda emosi tinggi, pikiran dan logikanya menjadi tertutupi. Keputusan dan respon yang diambil bisa menjadi tidak obyektif.

Tentu saja kesehatan fisik melalui rutin berolah raga, menjaga asupan makanan yang sehat, dan beristirahat yang cukup belumlah memadai. Diperlukan pula olah batin dan pikiran secara rutin dan berkualitas untuk mendapatkan kesehatan batin dan pikiran. Caranya pun beragam. Salah satunya adalah mendalami dan mempraktikkan ajaran agama masing-masing. Menjaga pikiran agar lebih banyak didominasi oleh pikiran-pikiran baik atau positif juga secara signifikan turut berkontribusi dalam membentuk pikiran yang sehat. Berlimpah penelitian dan fakta yang menunjukkan bahwa banyak penyakit fisik diakibatkan oleh batin dan pikiran yang bermasalah.

Ingatlah wahai couples, cinta kepada pasangan saja belumlah cukup untuk membangun kehidupan berpasangan dan berkeluarga yang rukun, harmonis, dan bahagia. Diperlukan juga kesehatan fisik, batin, dan pikiran guna merealisasikannya. Mendasarkan kehidupan bersama hanya kepada cinta dan mengabaikan faktor-faktor lainnya, penyesalanlah yang akan dituai sebagai hasil di akhir kehidupan.

“Cinta saja tidak cukup untuk membangun kehidupan berpasangan dan berkeluarga yang rukun, harmonis, dan bahagia. Diperlukan kesehatan fisik, batin, dan pikiran guna merealisasikannya. Mendasarkan hanya kepada cinta dan mengabaikan faktor-faktor lainnya, penyesalanlah yang akan dituai.”

~ Toni Yoyo ~

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *