“Bersyukur dan Berterima Kasih”

“Choosing to be positive and having a grateful attitude is going to determine how you’re going to live your life.”

“Memilih untuk menjadi positif dan memiliki sikap bersyukur akan menentukan bagaimana Anda akan menjalani kehidupan Anda.”

~ Joel Osteen ~

“Bersyukur dan Berterima Kasih”

(oleh: Toni Yoyo)

Salah satu landasan dari kemampuan bersyukur adalah mampu berterima kasih. Orang yang mampu bersyukur menunjukkan orang tersebut mampu berterima kasih. Bersyukur juga berlandaskan kepada penerimaan diri apa adanya. Orang yang sering bersyukur biasanya merupakan orang yang bisa berdamai dengan dirinya sendiri. Orang yang mampu bersyukur biasanya mampu pula menggunakan yang sudah ada dalam dirinya secara maksimal.

Namun seringkali orang lupa bersyukur atas hal-hal yang sudah dimiliki atau dijalaninya sehari-hari. Ini terjadi karena mereka menganggap hal-hal tersebut sudah alami dan orang-orang lain juga memiliki atau menjalani hal yang sama. Padahal bersyukur itu tidak harus dikarenakan kita memiliki atau menjalani yang lebih dibanding orang lain.

Salah satu hal sederhana yang seharusnya kita syukuri adalah kemampuan kita untuk melihat dan mendengar. Cukup banyak orang yang memiliki keterbatasan atas kedua kemampuan tersebut. Kenyataannya, hanya sedikit orang yang mampu mensyukuri keduanya karena beranggapan hanya sesuatu yang normal.

Jika kita pernah merasakan hal atau kondisi tertentu, akan lebih mudah membedakan yang sebaliknya atau berlawanan. Misalnya, seseorang awalnya tidak bisa melihat dan mendengar. Lalu kemudian dia menjadi bisa melihat dan mendengar, pastilah dia akan sangat menghargai kedua kemampuan ini. Jika pernah merasakan siang, pasti akan mudah membedakannya dengan malam. Jika pernah merasakan dingin, pasti akan mudah membedakannya dengan panas. Jika pernah merasakan dekat, pasti akan mudah membedakannya dengan jauh.

Helen Keller yang buta dan tuli pernah berkomentar, “Sedari dulu saya berpikir bahwa sungguh suatu berkat seandainya setiap orang itu buta dan tuli selama beberapa hari setelah dewasa. Kegelapan akan membuatnya menghargai penglihatan. Kesunyian akan mengajarinya suka cita mendengar suara-suara.”

Kisah nyata berikut memberikan contoh bagaimana dengan merasakan kondisi yang kurang baik bisa membuat kita bisa menghargai kondisi baik yang saat ini kita jalani.

*************************************************

Sewaktu kecil saya pernah terbangun di tengah malam buta dengan kegelapan total menyelimuti segalanya. Waktu itu, listrik belum masuk di daerah tempat tinggal saya. Keluarga saya berlangganan listrik diesel yang akan mati seiring dengan selesainya siaran Televisi Republik Indonesia (TVRI) di tengah malam. Jika orang tua saya terlambat menyalakan lampu tempel maka kegelapanlah yang akan melingkupi.

Di suatu malam, saya terbangun dengan tiba-tiba. Saya sangat panik karena tidak bisa melihat apa pun. Semuanya gelap tanpa ada sedikit pun cahaya. Langsung terbersit dalam pikiran bahwa saya telah menjadi buta. Alangkah mengerikannya kenyataan ini. Ketakutan segera menyergap dalam diri saya. Apa yang bisa saya perbuat dengan kondisi buta? Dunia saya akan menjadi terbalik adanya setelah mengalami kebutaan ini.

Tidak lama kemudian, pikiran normal saya kembali bekerja. Dengan kesadaran yang semakin bertambah, saya menyadari bahwa kebutaan tersebut karena listrik diesel yang telah padam. Apalagi tidak lama kemudian orang tua saya menyalakan lampu tempel. Saya bisa melihat lagi semuanya yang ada di dalam kamar. Rasa syukur tak berhingga timbul dalam sanubari saya karena sesungguhnya saya masih bisa melihat dan tidak menjadi buta.

*************************************************

Pernahkah Anda mengalami kebutaan bohongan seperti yang saya alami? Pasti kepanikan yang sama akan menerpa Anda. Lalu muncul ketakutan terhadap dunia yang akan menjadi berbeda sama sekali setelah kita tidak mampu melihat lagi.

Bagi orang normal, tentu tidak menginginkan panca inderanya terganggu. Kenyataannya, kita tidak sepenuhnya memiliki kontrol atas diri kita selama hidup di dunia ini. Kecelakaan, penyakit, maupun penyebab-penyebab lainnya bisa merengut fungsi panca indera kita. Di saat itulah kita akan sangat merindukan masa-masa di saat panca indera kita masih berfungsi dengan baik.

Banyak orang yang merasa nelangsa hidup di dunia karena menganggap sulit sekali meraih kegembiraan dan kebahagiaan. Padahal, dengan memanfaatkan panca indera sepenuhnya dan bersyukur atas segala sesuatu yang sudah dimiliki, hidup ini akan terasa lebih menyenangkan.

Haruskah kita menjadi buta atau tuli terlebih dahulu untuk mampu bersyukur bahwa kita telah dikaruniai penglihatan dan pendengaran yang baik guna menikmati dunia dan seisinya? Bersyukur merupakan prasyarat dasar bagi kita untuk bisa mengeluarkan diri yang sesungguhnya, yakni mengeluarkan seluruh potensi, bakat, dan kemampuan terbaik dari dalam diri kita.

“Orang yang mampu bersyukur berarti mampu berterima kasih dan menerima diri apa adanya, serta bisa berdamai dengan dirinya sendiri.”

~ Toni Yoyo ~

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *