“Biarkan Menyelesaikan Kata-Katanya”

“The first duty of love is to listen.”

“Tugas pertama dari mencintai adalah mendengarkan.”

                                     ~ Paul Tillich ~        

Biarkan Menyelesaikan Kata-Katanya

(oleh: Toni Yoyo)

Setiap manusia normal memiliki satu buah mulut dan dua buah telinga. Kondisi ini secara filosofis diartikan bahwa manusia seharusnya lebih banyak mendengar daripada berbicara. Namun kenyataannya, sebagian besar manusia lebih banyak berbicara untuk didengarkan daripada untuk mendengarkan. Sepertinya, apa yang ada di pikiran untuk dibicarakan jauh lebih banyak dibanding ruang kosong di pikiran untuk menampung apa yang didengar.

Selain itu, posisi telinga yang relatif berdekatan dengan mulut dapat juga mengandung makna filosofis bahwa telinga seharusnya menjadi alat kontrol bagi bekerjanya mulut. Telinga seharusnya menjadi “pengawas” atas pekerjaan mulut. Namun kenyataannya, mulut dengan telinga seringkali kurang koordinasi atau telinga yang kurang menjalankan fungsinya dengan baik. Sewaktu mulut berbicara buruk, kasar, atau kotor, telinga tidak bertindak apa-apa untuk untuk berkomunikasi dan meminta otak agar memerintahkan mulut untuk berhenti.

Untuk mencapai hubungan berpasangan dan berkeluarga yang berkualitas, salah satu keterampilan dasar terpenting yang harus dimiliki oleh dua orang yang berpasangan adalah “mendengarkan dengan sadar”. Keterampilan dalam melakukan hal ini dan mempraktikkannya secara rutin, dapat menghasilkan banyak keajaiban dalam kehidupan bersama.

Langkah awal dari mendengarkan dengan sadar adalah mendengarkan dengan perhatian sepenuhnya. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menyingkirkan sejenak pikiran-pikiran lain, baik yang berhubungan maupun tidak dengan topik yang sedang dibicarakan. Termasuk dalam hal ini adalah menyingkirkan berbagai pikiran antisipatif untuk bersiap merespon, yang biasa muncul dalam pikiran sewaktu mendengarkan orang lain berbicara.

Kemampuan berpikir manusia jauh lebih cepat daripada kemampuan berbicara. Ketika pasangan sedang berbicara, seringkali pikiran kita berpikir sudah bisa menangkap apa yang sudah, sedang, dan akan dikatakannya. Pikiran kita lalu mulai sibuk dengan hal-hal lain dan mengabaikan pembicaraan yang sedang berlangsung. Jangan pernah menganggap bahwa kita sudah tahu kelanjutan pembicaraan dari pasangan, atau kita sudah tahu semua yang perlu kita ketahui. Dalam kondisi kita merasa sudah tahu semuanya, ada dua kemungkinan yang terjadi selanjutnya dalam pikiran kita.

Pertama, pikiran kita beralih ke hal-hal lain yang tidak ada hubungannya dengan yang sedang dibicarakan. Kedua, pikiran kita menyiapkan hal-hal yang akan digunakan untuk merespon. Yang manapun yang dilakukan oleh pikiran kita, berarti pikiran kita tidak sepenuhnya memperhatikan semua yang dikatakan oleh pasangan. Kita bahkan berhenti mendengarkan pasangan. Jika ini terjadi, kita akan gagal menyerap pesan yang sesungguhnya. Alhasil,  terjadilah apa yang disebut kurang komunikasi atau bahkan salah komunikasi.

Langkah berikutnya setelah mendengarkan dengan sadar adalah mengklarifikasi sekiranya ada yang kita merasa kurang jelas atau ragu. Hal ini untuk memastikan apa yang kita tangkap sama persis dengan apa yang dimaksudkan oleh pasangan. Mengklarifikasi dapat dilakukan dengan mengulang apa yang dikatakan oleh pasangan kita menggunakan kalimat lain yang lebih ringkas.

Langkah terakhir setelah mengklarifikasi adalah merespon secara tepat jika diperlukan. Tidak selalu merespon ini berarti harus juga menggunakan kata-kata apalagi kalimat yang panjang dan terkesan menggurui pasangan kita.

Ingatlah wahai couples, lakukan tiga langkah sewaktu pasangan berkomunikasi dengan kita. Pertama – mendengarkan, kedua – mengklarifikasi, dan ketiga – merespon. Dengan konsisten melakukannya, niscaya kurang komunikasi atau salah komunikasi dapat diminimalkan dalam kehidupan berpasangan dan berkeluarga. Alhasil, kehidupan bersama pasangan yang harmonis dan rukun dapat lebih mudah diwujudkan.

“Lakukan tiga langkah sewaktu berkomunikasi dengan pasangan: dengarkan, klarifikasi, dan respon. Dengan konsisten melakukannya, kurang komunikasi atau salah komunikasi dapat diminimalisir sehingga kehidupan berpasangan dan berkeluarga yang rukun dan harmonis dapat lebih mudah terwujud.”

~ Toni Yoyo ~

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *