Definisi Menumbuhkembangkan Anak

“Good parenting is not about fulfilling the dreams of the parents, it’s about helping the children become strong and conscientious human beings so that they can achieve their dreams.”

“Pengasuhan anak yang baik bukan berarti mewujudkan impian orang tua, tetapi membantu anak menjadi manusia yang kuat dan bersungguh-sungguh agar bisa mencapai impiannya.”

~ Abhijit Naskar ~

“Definisi Menumbuhkembangkan Anak”

(oleh: Toni Yoyo)

Parenting (pengasuhan anak) dalam arti luas tidak hanya dilakukan oleh orang tua kandung kepada anaknya melainkan oleh semua orang dewasa kepada anak. Oleh karena itu, pengetahuan dan keterampilan parenting harus dikuasai oleh banyak orang, tidak hanya oleh orang tua yang memiliki anak saja, supaya anak bisa ditumbuhkembangkan dengan baik dan benar.

Lingkungan seorang anak tidak hanya di rumah saja sehingga orang yang berinteraksi dengan anak juga bukan hanya orang tuanya saja. Lingkungan seorang anak jauh lebih besar dan luas dari sekedar keluarga sehingga orang yang berinteraksi dengan anak jauh lebih banyak dan beraneka ragam. Semuanya berperan dalam proses parenting anak dan oleh karenanya mempengaruhi tumbuh kembang anak.

Oleh sebab itu, meski tanggung jawab terbesar parenting ada di pundak orang tua, strategi parenting harus mencakup lingkungan yang melingkupi anak dan orang-orang lain yang berinteraksi dengan anak. Lingkungan yang melingkupi anak mencakup keluarga sendiri, keluarga besar, lingkungan sekitar rumah, sekolah, dan masyarakat luas. Orang-orang lain yang berinteraksi dengan anak mencakup saudara di rumah, sanak saudara dari keluarga besar, tetangga, teman-teman sekolah, guru, dan anggota masyarakat luas.

Yang terpenting dipahami adalah parenting bukan hanya sekedar pengasuhan anak dalam bentuk membesarkan dan mendidik anak. Kewajiban dan peran orang tua dan orang-orang lainnya yang berkaitan dengan parenting adalah “MENUMBUHKEMBANGKAN” anak. Jangankan orang-orang lainnya yang berperan dalam parenting, orang tua saja masih banyak yang belum memahami hal ini sehingga tidak menjalankan kewajiban dan peran terhadap anak secara maksimal.

Untuk memahami definisi “menumbuhkembangkan” anak, kita ambil analogi atau pengandaian sederhana dari tanaman buah atau bunga. Sebuah tanaman akan dianggap “berhasil” atau “sukses” apabila sampai berbuah atau berbunga. Sebagaimana halnya tanaman normal yang tumbuh dari bibitnya, lalu menjadi tanaman kecil yang terus membesar, hingga akhirnya berbunga atau berbuah. Demikian pulalah seharusnya yang terjadi pada anak.

Anak “bertumbuh” berarti terjadi pertumbuhan yang normal dan sehat pada fisik, inteligensi, emosi, mental, dan spiritual anak. Artinya, semua aspek dalam diri anak harus dapat bertumbuh dengan baik.

Anak “berkembang” berarti anak mampu merealisasikan bakat, potensi, dan kemampuannya secara maksimal sehingga bisa meraih berbagai keberhasilan, kesuksesan, dan kebahagiaan dalam kehidupannya.

Jika orang tua hanya membuat anak bertumbuh saja maka orang tua belum melakukan secara lengkap kewajiban dan perannya terhadap anak. Kenyataannya, banyak orang tua yang berhenti hingga di tahap ini saja. Padahal orang tua seharusnya membantu anak untuk mengidentifikasi bakat (talent), minat (interest), dan hasrat (passion) anak, serta mendukung anak menjalankan hidup yang sesuai dengan ketiga hal tersebut.

Apa akibatnya bagi anak-anak yang tidak ditumbuhkembangkan oleh orang tuanya? Mereka akan menjadi orang-orang yang tanggung dalam kehidupannya. Tanggung dalam hal pencapaian keberhasilan, kesuksesan, dan kebahagiaan dalam kehidupan ini.

Ingatlah wahai orang tua, kewajiban dan peran orang tua adalah menumbuhkembangkan anak, bukan hanya membesarkan dan mendidik anak saja. Keberhasilan orang tua hanya dalam menumbuhkan anaknya belumlah lengkap. Harus sampai membuat anaknya mampu berkembang, yang berarti anak bisa merealisasikan bakat, potensi, dan kemampuan terbaiknya dalam kehidupan ini.

“Kewajiban dan peran orang tua terhadap anak tidak hanya sekedar membesarkan dan mendidik, melainkan harus ‘MENUMBUHKEMBANGKAN’. Tanpa memahami ini dengan baik dan benar, orang tua takkan bisa menjalankan kewajiban dan peran terhadap anaknya secara maksimal.”

~ Toni Yoyo ~

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *