“Jangan Mengasihani Diri Sendiri”

“It’s not how you start, It’s how you finish, I guess. It’s a great day.”

“Bukanlah tentang bagaimana Anda memulai, melainkan bagaimana Anda menyelesaikannya. Itu adalah hari yang besar.”

~ Doug Armstrong ~

“Jangan Mengasihani Diri Sendiri”

(oleh: Toni Yoyo)

Banyak orang yang sering mengasihani diri sendiri dan berharap orang lain juga mengasihani mereka. Orang seperti ini biasanya permisif dengan pencapaian kesuksesan dan kebahagiaan diri mereka yang biasa-biasa saja. Mereka berpikir bahwa latar belakang dan kemampuan diri mereka memang kurang mendukung sehingga wajar saja pencapaian mereka begitu-begitu saja.

Akan tetapi lihatlah hasil studi ini. Dari tiga ratus pemimpin atau tokoh dunia yang pernah hidup, diantaranya Abraham Lincoln, Franklin D. Roosevelt, Sir Winston Churchill, Clara Barton, Hellen Keller, Mahatma Gandhi, Ibu Teresa, Dr. Albert Schweitzer, dan Martin Luther King, Jr., mengungkapkan bahwa 25% dari mereka menderita cacat fisik dan 50% diantaranya menderita pelecehan ketika masih kanak-kanak atau dibesarkan dalam kemiskinan.

Para pemimpin atau tokoh dunia tersebut menanggapi secara positif ketimbang negatif atau reaktif atas hal-hal buruk yang pernah mereka alami. Mereka tidak mempedulikan latar belakang kurang baik dari dirinya, keluarganya, atau lingkungannya. Mereka tidak pernah mengasihani diri mereka sendiri atau meminta orang lain mengasihani mereka.

Karenanya, orang-orang yang masih mengasihani diri sendiri atau meminta belas kasihan orang lain haruslah merasa malu. Lupakan masa lalu yang buruk. Teruslah maju dan berkarya. Jangan pernah mengasihani diri sendiri atau meminta orang lain mengasihani kita. Itulah prinsip hidup yang layak kita miliki dan pegang teguh dalam praktiknya.

Beberapa kisah berikut mengajarkan kita untuk tidak mengasihani diri sendiri. Para tokoh dalam kisah ini memiliki alasan yang begitu kuat sehingga berhak mengasihani diri sendiri dan tidak berupaya apa pun dalam kehidupan ini. Namun mereka sama sekali tidak berpangku tangan atau bersembunyi di balik penderitaan hidupnya. Mereka tidak peduli dari mana mereka memulai, yang terpenting adalah di mana mereka akan mengakhiri.

*************************************************

Jackie Chan merupakan aktor layar lebar yang terkenal. Dia berasal dari keluarga yang sangat miskin. Karena tidak mampu memberinya makan ketika bayi, orang tuanya hampir menjual Jackie seharga 26 dolar Amerika Serikat kepada dokter kandungan yang membantu kelahirannya. Saat usianya baru menginjak tujuh tahun, orang tuanya pergi ke Australia untuk bekerja dan Jackie dititipkan di China Drama Academy.

George Soros kuliah di London School of Economic setelah keluarganya lari dari Hungaria akibat tekanan politik di masa Perang Dunia I. Untuk memenuhi biaya kuliah, Soros bekerja sebagai porter di stasiun KA, menjadi pelayan di restoran, dan menjadi buruh di pabrik manekin.

Charlie Chaplin, komedian ternama yang juga salah satu aktor terkaya di masanya, melewatkan masa mudanya dengan menggelandang di jalan-jalan kota London. Ayah Chaplin adalah seorang alkoholik yang meninggal saat Chaplin berusia 12 tahun. Ibunya adalah seorang penyanyi panggung.

Oprah Winfrey berasal dari keluarga miskin yang lalu menjadi salah satu wanita terkaya di Amerika. Dia adalah anak dari seorang penambang batu bara yang miskin. Oprah mengalami pelecehan seksual ketika kecil. Orang tuanya bercerai dan dia kemudian dibesarkan oleh neneknya.

Neil Rudenstein pernah menjadi presiden Harvard University. Latar belakang keluarga Rudenstein sama sekali bukan dari kalangan akademik tinggi. Ayahnya hanyalah seorang penjaga penjara dan ibunya seorang pramusaji paruh waktu.

*************************************************

Yang menjadi persoalan bukanlah apa yang pernah terjadi pada diri kita, melainkan bagaimana kita menangani hidup kita selanjutnya tanpa terbelenggu oleh hal-hal buruk yang pernah terjadi. Inilah yang akan membuat perbedaan dalam kehidupan kita.

Hal-hal yang sudah terjadi, yang harus kita terima dan jalani sampai saat ini, dalam kebanyakan kasus adalah tak terelakkan dan harus diterima (given atau taken for granted). Tidak ada gunanya memprotes itu semua. Daripada terbenam kepada hal-hal yang negatif dan mengasihani diri sendiri, lebih baik kita meresponnya secara positif untuk mengubah pencapaian kita menjadi lebih baik.

Ingatlah, tidak peduli dari mana kita memulai, yang terpenting adalah dimana kita akan mengakhirinya. Mulailah dengan penerimaan diri apa adanya, lalu keluarkan seluruh potensi, bakat, dan kemampuan terbaik dari dalam diri kita untuk melakukan yang terbaik mulai dari sekarang dan ke depannya. Niscaya dengan mengeluarkan diri kita yang sesungguhnya akan dapat mengubah kehidupan kita menjadi lebih sukses dan bahagia.

”Yang menjadi persoalan bukanlah apa yang pernah terjadi pada diri kita, melainkan bagaimana kita menangani hidup kita selanjutnya tanpa terbelenggu oleh hal-hal buruk yang pernah terjadi. Inilah yang akan membuat perbedaan dalam kehidupan kita.”

~ Toni Yoyo ~

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *