“Menjadi Orang Tua Sempurna – No, Mendekati Sempurna – Yes”

“Conscious parenting is not about being perfect, it’s about being aware. Aware of what your kids need from you to reach more of their full potential.”

“Pengasuhan anak secara sadar bukanlah tentang menjadi sempurna, ini adalah tentang menjadi sadar. Sadar tentang apa yang anak-anak butuhkan dari Anda untuk meraih lebih banyak dari potensi penuh mereka.”

~ Alex Urbina ~

“Menjadi Orang Tua Sempurna – No, Mendekati Sempurna – Yes

(oleh: Toni Yoyo)

Sebagian orang tua mengharapkan dirinya bisa sempurna sebagai orang tua dan anaknya juga bisa sempurna sebagai anak. Mengharapkan kesempurnaan diri sendiri dan anak, ibarat punguk merindukan bulan, takkan pernah menjadi kenyataan. Harapan akan kesempurnaan hanyalah kesia-siaan, suatu kemustahilan. Tidak ada orang tua dan anak yang sempurna di sudut manapun di belahan bumi ini. Orang tua dan anak pasti memiliki kekurangan dan melakukan kesalahan.

Memang betul, jika orang tua atau anak berbuat kesalahan, sebagian kesalahan dapat menimbulkan emosi negatif, misalnya sakit hati, iri, kemarahan, kebencian, dan dendam. Namun terkadang emosi-emosi negatif tersebut diperlukan untuk (terutama) membuka mata anak bahwa dunia ini bisa keras dan kejam bagi mereka yang tidak mempersiapkan diri dengan baik. Percayalah, tidak ada orang tua atau anak di masa lampau, masa sekarang, maupun masa depan yang berhasil melalui kehidupannya sebagai orang tua atau anak tanpa pernah mengalami emosi negatif. Kuncinya adalah bagaimana emosi negatif tersebut dapat membawa hal yang positif, bukan malah menciptakan hal yang negatif.

Oleh karenanya, orang tua tidak boleh menghukum atau menyiksa diri sendiri atau anak secara berlebihan sewaktu melakukan kesalahan. Hukuman atau penyiksaan diri bukanlah cara yang paling tepat untuk memperbaiki kesalahan. Sediakan fleksibilitas dan toleransi dalam kehidupan ini karena tidak semua hal bisa berjalan seperti yang diharapkan. Kesalahan yang sudah terjadi, biarkanlah berlalu. Yang paling penting adalah mengambil pelajarannya sehingga kesalahan bisa dikurangi atau kalau bisa tidak terulang lagi di waktu ke depannya.

Jika orang tua melakukan kesalahan dalam upaya menumbuhkembangkan anak, tindak lanjut yang dapat dilakukan oleh orang tua adalah:

1. Mengakui kesalahan tersebut.

2. Menerima kesalahan tersebut.

3. Bertekad untuk tidak mengulangi kesalahan tersebut.

4. Mencari cara baru yang lebih baik.

5. Bertekad menerapkan cara baru yang lebih baik tersebut.

6. Melakukan evaluasi terhadap cara baru tersebut setelah dilakukan selama beberapa waktu.

7. Mempertahankan cara baru tersebut jika memang sudah baik, atau

8. Mengulangi proses ini jika cara baru tersebut juga belum baik.

Dengan melakukan proses demikian, meskipun orang tua tidak akan pernah menjadi sempurna, orang tua akan bisa menjadi orang tua yang mendekati sempurna bagi anaknya. Orang tua perlu mengembangkan kebesaran jiwa dan kekuatan mental untuk terus memperbaiki dan mengasah diri. Yakinlah bahwa upaya orang tua tidak akan sia-sia. Anak yang mendekati sempurna pun akan lebih mudah menjadi kenyataan.

Ingatlah wahai orang tua, tidak ada orang tua dan anak yang sempurna. Orang tua dan anak pasti memiliki kekurangan dan melakukan kesalahan. Namun, menjadi orang tua dan anak yang mendekati sempurna adalah sesuatu yang sangat mungkin direalisir. Kuncinya terletak pada kemauan dan praktik untuk terus menjadi pribadi yang lebih baik dari waktu ke waktu.

“Tidaklah mungkin menjadi orang tua yang sempurna. Namun, sangatlah mungkin menjadi orang tua yang mendekati sempurna, yang akan menghasilkan anak yang mendekati sempurna pula. Orang tua perlu mengembangkan kebesaran jiwa dan kekuatan mental untuk terus memperbaiki dan mengasah diri.”

~ Toni Yoyo ~

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *