Orang Tua Harus Bertanggung Jawab Atas Hasil Perbuatannya

“You are the reason why he exists on this earth. You don’t have the right to abandon him just because he’s inconvenient or has trouble in school.”

“Orang tua adalah alasan mengapa anak ada di bumi ini. Orang tua tidak berhak meninggalkan anaknya hanya karena anaknya membuat dia tidak nyaman atau karena mendapatkan masalah di sekolah.”

~ Michael Crichton ~

“Orang Tua Harus Bertanggung Jawab Atas Hasil Perbuatannya”

(oleh: Toni Yoyo)

Dalam dunia kerja profesional, seorang pekerja harus berani mempertanggungjawabkan hasil pekerjaannya. Apa yang sudah dilakukan, harus berani dipertanggungjawabkan. Jika hasil yang diperoleh kurang baik, pekerja tersebut harus mengambil tindakan korektif untuk memperbaikinya. Ini adalah standar umum yang berlaku di banyak perusahaan.

Prinsip pertanggungjawaban tersebut juga berlaku dalam kehidupan rumah tangga. Pasangan orang tua yang sudah berani “memproduksi” anak seharusnya berani pula bertanggung jawab atas “hasil produksi”nya. Jika “hasil produksi” orang tua kemudian dianggap kurang bagus (anak kurang baik tingkah lakunya), orang tua harus aktif mengambil tindakan-tindakan perbaikan supaya menjadi lebih bagus (anak menjadi lebih baik tingkah lakunya). Orang tua tidak boleh menghindar dari tanggung jawab atas “hasil produksi”nya, apa pun yang terjadi. Orang tua tidak selalu mampu memperbaiki sendiri “hasil produksi”nya yang kurang baik. Orang tua dapat mencari dukungan dan bantuan dari orang-orang lain atau yang berkompeten.

Sayangnya, orang tua yang menghindar dari tanggung jawab atas “hasil produksi”nya banyak ditemukan dalam kehidupan ini. Orang tua yang menghindar dari tanggung jawab atas “hasil produksi”nya ini mungkin karena tidak siap sewaktu hasil produksinya hadir ke dunia ini. Ketidaksiapan ini bisa terjadi karena berproduksinya semata hanya berdasarkan dorongan perasaan sejenak, atau karena kurang baik dan tidak matang dalam perencanaan keluarga. Ada terjadi kasus di mana anak tidak diinginkan oleh orang tuanya, lalu dibuang atau ditelantarkan.

Ada pula orang tua yang meskipun tidak menghindar dari tanggung jawab atas “hasil produksi”nya, akan tetapi tidak memenuhi tanggung jawabnya secara penuh. Orang tua seperti ini adalah tipe yang tidak mengambil peran aktif dalam menumbuhkembangkan anaknya. Orang tua demikian tidak mau pusing, membiarkan anak apa adanya, dan berharap anaknya menjadi baik dengan sendirinya. Orang tua demikian menyerahkan anak sepenuhnya kepada pengasuh di rumah, guru di sekolah, guru di tempat les, dan lain-lain. Orang tua demikian berharap keajaiban di mana segala hal yang berkaitan dengan anaknya akan beres tanpa perlu kehadiran atau keterlibatan dirinya.

Orang tua seharusnya menjadi orang terdekat bagi anak. Terdekat tidak hanya dalam pengertian jarak fisik, melainkan juga secara emosional. Terdekat tidak hanya dalam jumlah interaksi tetapi juga dalam hal kualitas interaksi. Orang tua harus menjadi contoh bagi anak. Jika orang tua terbiasa membiarkan saja anaknya, jangan salahkan jika di kemudian hari anak juga akan membiarkan orang tuanya di saat sudah tua dan tidak berdaya.

Ingatlah wahai orang tua, di setiap hak yang diambil, terkandung kewajiban yang harus dipenuhi. Orang tua memang berhak untuk “memproduksi” anak. Namun kewajiban orang tua pula untuk secara aktif memainkan peran utama dalam menumbuhkembangkan anak “hasil produksi”nya.

“Orang tua yang sudah berani ‘memproduksi’ anak seharusnya berani pula bertanggung jawab atas ‘hasil produksi’nya. Jika anak kurang baik tingkah lakunya, orang tua harus aktif mengambil tindakan-tindakan perbaikan supaya anaknya menjadi lebih baik.”

~ Toni Yoyo ~

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *