“Tak Ada Orang Tua yang Sempurna, Pun Tak Ada Anak yang Sempurna”

“You’re going to make mistakes as a parent. It’s literally inevitable. You’re human, and mistakes are just part of being human. It’s how you handle your mistakes that matters most. Acknowledge them. Apologize for them. Make them as right as possible. Learn something from them. And then let them go. It’s okay. I promise. After all, how else will our little humans learn that it’s okay to be human.”

“Anda akan membuat kesalahan sebagai orang tua. Ini benar-benar tak terhindarkan. Anda adalah manusia, dan kesalahan adalah bagian dari manusia. Bagaimana Anda menangani kesalahan Anda adalah yang terpenting. Akui kesalahan Anda. Minta maaf karena telah melakukannya. Perbaikilah kesalahan Anda sebaik mungkin. Pelajari pengalaman dari kesalahan yang sudah Anda perbuat. Dan kemudian biarkan kesalahan itu berlalu. Tak apa-apa. Saya jamin. Lagi pula, anak perlu belajar bahwa tidak apa-apa menjadi manusia yang tidak lepas dari kesalahan.”

~ L.R. Knost ~

“Tak Ada Orang Tua yang Sempurna, Pun Tak Ada Anak yang Sempurna”

(oleh: Toni Yoyo)

Pernahkah Anda mengamati sebagian orang, mungkin termasuk Anda sendiri, saat membeli buah, apa yang dilakukan? Meskipun ada berbagai macam cara untuk menentukan dan memilih buah yang baik, banyak orang yang melakukan hal yang sama dalam memilih buah, ambillah contoh apel.

Sebagian besar orang akan memutar-mutar apel untuk mengamati penampilan fisik apel tersebut, yakni warnanya apa, warnanya rata atau tidak, bentuknya sempurna atau tidak, ada memar atau tidak, tangkainya sudah kering atau belum, buahnya mengkerut atau tidak, dan lain-lain. Bisa jadi apel juga dipencet-pencet atau ditekan-tekan untuk memastikan teksturnya apakah masih kencang dan segar atau tidak. Juga dicium aromanya apakah kuat atau tidak untuk memastikan kematangannya. Meskipun berbagai upaya sudah dilakukan, tetaplah tidak ada jaminan bahwa kualitas apel akan sempurna sewaktu dimakan.

Sebagaimana harapan akan apel dengan kualitas yang sempurna, demikianlah banyak orang tua mengharapkan dirinya bisa sempurna sebagai orang tua dan menghasilkan anak yang juga sempurna. Sebagian orang tua memiliki hasrat dan tujuan kesempurnaan atas diri sendiri dan anak seperti itu. Sebagian orang tua menghendaki dirinya mampu menghasilkan anak yang sehat, pandai, menarik, berperilaku baik, berbakti, sukses, dan bahagia. Anak juga diharapkan bisa merasa nyaman dengan dirinya sendiri, mampu menyesuaikan diri, dan mandiri. Boleh dikata semua orang tua juga mengharapkan anaknya bisa memiliki keluarga yang rukun, harmonis, dan bahagia.

Mengharapkan kesempurnaan atas diri sendiri dan anak, ibarat orang tua memandang ke langit malam dan mengharapkan bintang jatuh. Harapan akan kesempurnaan hanyalah kesia-siaan. Tidak ada orang tua dan anak yang sempurna. Orang tua dan anak pasti memiliki kekurangan dan melakukan kesalahan.

Tidak ada orang tua yang begitu anaknya lahir, sudah menjadi orang tua yang sempurna, yang mampu mempraktikkan cara-cara parenting secara sempurna. Pun tidak ada anak yang begitu terlahir, sudah merupakan anak yang sempurna, yang bisa memenuhi semua harapan orang tuanya. Ketidaksempurnaan merupakan kenyataan umum dari semua orang yang baru menjadi orang tua dan semua anak yang baru dilahirkan, di keluarga manapun. Kemampuan menerima kenyataan ini akan membantu orang tua untuk lebih mudah menjalankan perannya dengan segala pernak pernik permasalahannya.

Oleh karenanya, orang tua tidak boleh menghukum atau menyiksa diri sendiri atau anak secara berlebihan. Dunia dan kehidupan orang tua dan anak belumlah kiamat karena kekurangan dan kesalahan kecil. Kehidupan harus terus berlanjut. Tidak ada yang akan mencatat skor orang tua dan anak. Pun tidak ada yang akan mengadili kecuali melakukan hal yang melanggar hukum.

Ingatlah wahai orang tua, tidak ada orang tua dan anak yang sempurna. Orang tua dan anak pasti memiliki kekurangan dan melakukan kesalahan. Orang tua tidak boleh menghukum atau menyiksa diri sendiri atau anak secara berlebihan karenanya. Yang terpenting adalah bagaimana orang tua dan anak dapat terus meningkatkan kualitas diri masing-masing dari waktu ke waktu.

“Tidak ada orang tua yang sempurna, pun tidak ada anak yang sempurna. Orang tua dan anak pasti memiliki kekurangan dan melakukan kesalahan. Harapan akan kesempurnaan hanyalah kesia-siaan. Orang tua tidak boleh menghukum atau menyiksa diri sendiri atau anak secara berlebihan karenanya.”

~ Toni Yoyo ~

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *